Bismillahirrahmanirrahim...
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan
hidayah dan ilmu pengetahuan kedalam diri manusia, serta shalawat dan salam ke
haribaan nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke
alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan J
Subhanallah...
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh
alam
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Pemilik hari pembalasan
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah
dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus
(yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan
pula (jalan) mereka yang sesat.”
(Surah Al-Fatihah)
Manusia adalah makhluk istimewa yang telah diilhami
nafsu dan akal oleh Allah SWT, dengan akal manusia dapat berpikir dan
merenungkan ciptaan Allah, dengan akal manusia dapat mengkaji berbagai ilmu
pengetahuan, dengan akal pula manusia seharusnya dapat membedakan mana yang hak
dan mana yang batil J
Insya Allah.
Berikut saia akan coba mengulas tentang kejadian
manusia dari awal penciptaan, sejarah orang-orang terdahulu, hingga hari
kebangkitan (kehidupan akhirat) yang telah dijanjikan oleh Allah, dengan bersandar
pada A-Qur’an dah As-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia. Semoga bermaanfaat
bagi para pembaca J
Keistimewaan Manusia
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang
diciptakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya;
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam
dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan
dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)
Asal Mula Penciptaan Manusia
Allah telah memberikan pengetahun kepada kita
mengenai proses penciptaan manusia melalui Al-Qur’an. Manusia merupakan makhluk
yang terbuat dari tanah liat, sebagaimana firman-Nya;
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia
(Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami
telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS.
Al-Hijr: 26-27)
Dalam Al-Qur’an, telah dijelaskan pula bahwa Allah
berkehendak untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, Allah
berfirman;
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi’. Mereka berkata,
‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah
disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia
berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS.
Al-Baqarah: 30)
“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda)
semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman,
‘Sebutkan kepada-Ku semua (benda) ini, jika kamu benar! Mereka menjawab,
‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana’
Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama
itu!’ setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, ‘Bukankah
telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan
aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembuyikan?””
(QS. Al-Baqarah: 31-33)
Iblis Memusuhi Adam beserta Keturunannya
Seringkali kita mendengar atau mungkin membaca
perihal makhluk yang bernama Iblis. Iblis adalah makhluk jahat yang tidak
pernah rela manusia mengabdi kepada Allah. Oleh karena itu, sepanjang hidupnya
akan dihabiskan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Allah telah mengabarkan
mengenai kejadian yang mengawali permusuhan antara Iblis dengan Adam serta anak
cucunya. Allah berfirman;
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, ‘Sungguh, aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah
menyempurnakannya (kejadian)nya, dan aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku
kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah
para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Ia enggan ikut
bersama-sama para (malaikat) yang sujud itu. Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai
Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?’ Ia (Iblis)
berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah
menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk’.
Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena
sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai
hari Kiamat.’” (QS. Al-Hijr: 28-35)
Iblis terang-terangan bermaksiat dan menyombongkan
diri dihadapan Tuhannya dengan menolak perintah Allah untuk bersujud kepada
Adam. Akhirnya dia termasuk kedalam golongan makhluk yang kufur nikmat. Allah
menghukum Iblis karena pembangkangannya. Kemudian Iblis pun meminta penangguhan
kepada Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Ia (Iblis) berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu)
maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’” (QS.
Al-Hijr: 36)
Allah berfirman, “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu
termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (Kiamat).”
(QS. Al-Hijr: 37-38)
“Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau
telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa
indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hambamu yang terpilih diantara mereka.’” (QS. Al-Hijr:
39-40)
“...Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku
akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus” (QS. Al-A’raf:
16)
“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari
depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)
Kemudian Allah menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya,
memanjangkan umurnya dan membebaskannya untuk menempuh jalan yang menjadi
pilihannya. Allah Swt berfirman;
“Dan perdayakanlah siapa saja diantara mereka yang
engkau (iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu
terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan
mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.” Padahal
setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (Al-Isra’: 64)
Allah Menurunkan Adam ke Bumi
Pada mulanya, manusia pertama (Adam) dan hawa tinggal
bersama di surga, sebagaimana firman Allah;
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah
engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai
makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini,
nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!’” (QS. Al-Baqarah: 35)
Kemudian setan memperdaya Adam dan istrinya untuk
melanggar perintah Allah, sehingga Allah menghukumnya karena perbuatannya yang
zalim. Allah berfirman;
“Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga
sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana
(surga), dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi
yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu
yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 36)
”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari
Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat,
Maha Penyayang. Kami berfirman, ‘turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika
benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti
petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu
penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.“ (QS. Al-Baqarah: 37-39)
Maka dimulailah kehidupan Adam dan Hawa beserta
keturunannya di muka bumi. Allah berfirman;
“...Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama,
sebagaimana kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu
petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia
tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaahaa: 123)
Tujuan Penciptaan Manusia
Lalu untuk apa manusia diciptakan ke dunia??
Pernahkan pertanyaan ini menghampiri benak anda?? Jawabannya ada dalam
Al-Qur’an;
“Dia (Allah) berfirman, ‘Kamu tinggal (di bumi)
hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui’. Maka apakah kamu
mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun: 114-115)
Manusia diciptakan untuk mengabdi dan beribadah
kepada Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah
menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 21)
Mengemban amanah dari Allah, berdasarkan firman Allah
Swt;
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada
langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat
itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
QS. Al-Ahzab: 72)
Manusia hidup di dunia untuk beribadah dan
mengumpulkan amalan kebaikan, dan kelak segala perbuatannya akan dimintai
pertanggung jawaban dan mendapatkan balasan yang setimpal, sebagaimana firmna
Allah;
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu
saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)
Manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi,
Allah berfirman;
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi”. Mereka berkata,
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah
disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia
berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.
Al-Baqarah: 30)
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai
khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas
yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh Dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 165)
Manusia dituntut untuk menyeru kebaikan dan mencegah
kemungkaran, Allah berfirman;
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang
beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran:
110)
Jelas sudah bahwa manusia adalah makhluk yang
mengemban amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi, berkewajiban untuk taat
dan patuh pada perintah Allah dan senantiasa beribadah kepada-Nya. Manusia
berkewajiban pula untuk saling nasehat-menasehati, sebagaimana firman Allah;
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling
menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS.
Al-‘Asr: 1-3)
Rasul Diutus ke Bumi
Sejak dahulu, Allah telah mengutus Rasul untuk
menyampaikan risalah-Nya ke bumi dan memberi peringatan kepada manusia untuk
menyembah Allah dan senantiasa beribadah hanya kepada-Nya. Begitu besarnya
kasih sayang Allah kepada manusia, agar memperoleh keselamatan hidup di dunia
dan di akhirat.. Namun sejak dahulu, kaum nabi-nabi tetap saja ada yang ingkar
terhadap perintah Allah dan memilih berada dalam kesesatan hingga Allah Swt
mengazabnya.
Allah Swt berfirman;
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul
untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut’,
kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang
tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum
engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu
kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak
mengetahui. Dan kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang
tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal. Kemudian kami
tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan
mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang
melampaui batas. Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur’an)
yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?” (QS.
Al-Anbiya’: 7-10)
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum
engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’:
25)
Dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya’ yang berarti
nabi-nabi, Allah telah banyak mengkisahkan mengenai nabi-nabi dengan kaumnya.
Sungguh Allah Maha Mengetahui segala apa yang di langit dan di bumi, dan Allah
Maha Mengetahui apa yang dilahirkan oleh manusia (ucapan) maupun yang
disembunyikan oleh manusia di dalam hatinya (rahasia). Allah berfirman;
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa
dan Harun, Furqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Anbiya’: 48)
“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan
nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka berkata, ‘Apakah
engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main-main? Dia
(Ibrahim) menjawab,’Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan
bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya dan aku termasuk orang yang dapat
bersaksi atas itu.” (QS. Al-Anbiya’: 54-56)
“Dan kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke
sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam. Dan Kami
menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub sebagai suatu anugerah. Dan
masing-masing Kami jadikan orang yang shaleh. Dan Kami menjadikan mereka itu
sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami
wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan
menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS.
Al-Anbiya’: 71-73)
“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika dia
berdo’a. Kami perkenankan (do’a)nya, lalu Kami selamatkan dia bersama
pengikutnya dari bencana yang besar.” (QS. Al-Anbiya’: 76)
“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika
keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh
kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan)
oleh mereka itu. Maka Kami berikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum
yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan
Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud.
Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. Al-Anbiya’: 78-79)
Menurut riwayat Ibnu Abbas, ada sekelompok kambing
telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal ini
kepada Nabi Dawud a.s. Ia memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan
kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman
a.s memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik
tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti
tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat
diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali.
Keputusan Nabi Sulaiman a.s yang lebih tepat. Begitulah Allah memberikan
petunjuk-Nya kepada Nabi Sulaiman J
Allahu Akbar...
Dan Kami ajarkan pula kepada Dawud cara membuat
baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu
bersyukur (kepada Allah)?” (QS.
Al-Anbiya’: 80)
“Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang
sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami
beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan (Kami tundukkan
pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut)
untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu, dan Kami yang memelihara
mereka itu.” (QS. Al-Anbiya’: 81-82)
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa
kepada tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal
Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan
(do’a)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan
keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu
rahmat dari Kami, dan untuk menjadi pengingat bagi semua yang menyembah Kami.” (QS.
Al-Anbiya’: 83-84)
“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli.
Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar, dan kami masukkan mereka ke dalam
rahmat Kami. Sungguh mereka termasuk orang-orang yang saleh. (QS.
Al-Anbiya’: 85-86)
“Dan (ingatlah kisah) Zun nun (Yunus), ketika dia
pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan
menyulitkannya, maka dia berdo’a dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada
Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang
zalim’ Maka Kami kabulkan (do’a)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan
demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS.
Al-Anbiya’: 87-88)
“Dan (ingatlah kisah) zakaria, ketika dia berdo’a
kepada Tuhan-nya, ‘Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan aku hidup seorang diri
(tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik. Maka Kami kabulkan
(do’a)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan kami jadikan istrinya
(dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan
kebaikan, dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh harap dan cemas. Dan
mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)
“Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara
kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami
jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah)bagi seluruh alam.” (QS.
Al-Anbiya’: 91)
Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama
yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Tetapi mereka terpecah
belah dalam urusan (agama) mereka diantara mereka. Masing-masing (golongan itu
semua) akan kembali kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 92-93)
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur
setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr, bahwa bumi ini akan dihiasi oleh
hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya’: 105)
Al-Qur’an Sebagai Petunjuk, Peringatan dan Kabar Gembira
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang
disampaikan kepada nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, untuk disampaikan
kepada umat manusia sebagai pedoman hidup agar memperoleh keselamatan hidup di
dunia dan di akhirat. Allah Swt berfirman;
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan
(Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam (jin dan manusia). (QS. Al-Furqan: 1)
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha
Penyayang. Ha Mim. (Al-Qur’an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih,
Maha Penyayang. Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab,
untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi
kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan. Dan mereka
berkata, ‘Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepada-Nya
dan telinga kami sudah tersumbat, dan diantara kami dan engkau ada dinding,
karea itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai
kehendak kami).’” (QS. Fushshilat: 1-5)
Al-Qur’an sebagai petunjuk, membimbing manusia ke
jalan yang lurus.
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan
Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dengan tanpa kebengkokan di dalamnya,
sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan manusia akan siksaan yang
sangat pedih dari sisi Allah dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amalan shaleh, bahwa mereka akan mendapat balasan
yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 1-2)
Allah telah menjamin kemurnian Al-Qur’an, berdasarkan
firman-Nya;
“Aku bersumpah dengan tempat beredarnya
bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu
mengetahui. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab
yang terpelihara (Lauhul Mafuzh).” (QS. Al-Waqi’ah: 75-78)
“Maha Suci Allah yang ditangan kekuasaan-Nyalah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati
dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)
Al-Qur’an sebagai peringatan, sebagaimana firman
Allah Swt;
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya
(Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur’an itu tidak lain
hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas, agar dia (Muhammad) memberi peringatan
kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab)
terhadap orang-orang kafir.” (QS. Yasiin: 69-70)
Sungguh, janji Allah mengenai ganjaran segala amal
perbuatan kita di dunia itu pasti. Barangsiapa menabur benih kebaikan dan
senantiasa mengerjakan amalan shaleh, maka ia akan memperoleh surga.
Barangsiapa yang mengingkari janji Allah dan kufur nikmat, maka neraka Jahanam
adalah balasan baginya. Allah berfirman;
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah
benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kalian, dan
janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu memperdayakan kalian tentang
Allah.” (QS. Fathir: 5)
“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti
akan datang, dan kamu sekali-kali tidak akan sanggup menolaknya.” (QS.
Al-An’am: 134)
“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti
menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan
pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami
tepati, sungguh Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’: 104)
Pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah menantang
orang-orang yang meragukan dan mendustakan Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya;
“Apakah kamu meremehkan Al-Qur’an? Kamu
(mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). Lalu
mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal saat itu kamu melihat, dan
Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu tetapi kamu tidak melihat. Maka
mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa
itu (kepada tempatnya), jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (QS.
Al-Waqi’ah: 81-87)
“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami
turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal
dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang
yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu,
maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang
disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)
“Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam
(Al-Qur’an) ini benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang
yang menyembah (Allah). Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan
untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 106-107)
Kehidupan Dunia
Terlahir di dunia dari rahim seorang ibu, tumbuh
menjadi besar, mengenyam pendidikan dan memperoleh gelar, lalu bekerja dan
berkarya, menikah, mempunyai anak dan hidup bahagia hingga tua dan ajal
menjemput... lalu pada akhirnya tiap-tiap manusia akan menjadi sejarah bagi
generasi berikutnya. Secara garis besar, begitulah perjalanan hidup manusia di
dunia ini. Apa yang sesungguhnya kita cari di dunia?? Tanyakan diri kita
masing-masing J
Allah berfirman;
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu
hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak seperti
hujan dan tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu
menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan
akhirat nanti ada azab yang keras, dan ampunan Allah serta keridhaan-Nya. Dan
kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS.
Al-Hadid: 20)
“Tidak lain kehidupan dunia ini kecuali
sendagurau-sendagurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan
yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
“Bermegah-megahan telah membikin kamu lalai.
Sampai kamu masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui
(akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS.
Al-Takatsur: 1-4)
Kematian dan Alam Kubur
Kehidupan di dunia sering membuat kita lalai dalam
mengingat Allah, Tuhan yang telah menciptakan dan memberi kita rizki. Allah
berfirman;
“Katakanlah, ‘Siapakah yang akan akan menjaga kamu
pada waktu malam dan siang dari (siksaan) Allah Yang Maha Pengasih?’ Tetapi
mereka enggan mengingat Tuhan mereka.” (QS. Al-Anbiya’: 42)
Mungkin selama ini kita telah sering berbuat maksiat
kepada Allah, berlomba-lomba mengejar kehidupan duniawi seakan-akan kita akan
kekal didalamnya dan tak akan pernah mati. Padahal tidak ada yang abadi di
dunia ini, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, sebagaimana firman
Allah;
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami
akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan
dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan di dalam surga, maka sungguh ia akan
beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)
“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari
darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia
beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya. Yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal
perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah
kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan
sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. Dan ditiuplah
sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap hari,
bersama dengan seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi.
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari hal ini, maka Kami singkapkan
dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatan pada hari itu amat
tajam.” (QS. Qaf: 16-22)
“Kami telah menentukan kematian di antaramu dan
sekali-kali Kami tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikanmu dengan
orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di
akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Waqi’ah: 60-61)
“...(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat
pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang
para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah
nyawamu’. Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan,
karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena)
kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya .” (QS. Al-An’am: 93)
Saat nyawa telah meninggalkan jasad... maka semua tak
ada artinya lagi, tubuh yang dahulunya berdiri tegap sudah tak berdaya. Mayat
akan diusung kedalam peti dan diantarkan oleh sanak saudara ke pemakaman, lalu dikuburkan.
Saat itu, siapa yang dapat menolong kita dari kesunyian dan kegelapan liang
lahat?? Siapa yang akan mencegah binatang-binatang tanah yang hendak
menggerogoti tubuh kita??
Allah berfirman;
“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri
kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah
Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia). Kami tidak
melihat pemberi syafa’at (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka
itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh telah terputuslah (semua pertalian)
antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai
sekutu Allah).” (QS. Al-An’am: 94)
Tanyakan diri... kemana harta yang selalu kita kumpulkan
hingga tak kenal lelah dan waktu?? dimana kecantikan atau ketampanan yang
dahulu kita banggakan?? Apalah artinya kedudukan dan jabatan di dunia?? Apa
artinya gelar pendidikan yang dulu kita kejar mati-matian?? Bukankah pada
akhirnya nama kita hanya akan menyandang gelar almarhum atau almarhumah...
Lalu untuk apa semua itu, jika hanya akan membuat
kita mengabaikan perintah-perintah Allah dan menjadikan diri kita sebagai manusia
yang kufur nikmat...na’udzubillahi min dzalik. Mari jadikan renungan untuk kita
bersama J
Sungguh kematian akan memutuskan hubungan manusia
dengan alam dunia. Setelah mati, semua yang ada di dunia tidak dapat menolong
dan memberi manfaat sedikitpun, kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullah
Saw;
“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah
amalannya kecuali tiga perkara yaitu; anak shaleh yang mendoakannya, sedekah
jariyah dan ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)
Setelah manusia menemui kematian, maka ia pun mulai
memasuki tahapan awal dari perjalanan menuju akhirat yaitu alam
kubur. Alam kubur (alam barzah) merupakan alam ghaib yang tidak terindera oleh
manusia. Manusia yang merasakannya pun tidak dapat mengabarkannya lagi kepada yang
masih hidup akan kebenarannya. Nikmat dan azab kubur adalah perkara ghaib yang
hanya dapat diketahui melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mengenai azab kubur, Rasulullah Saw bersabda;
“Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah
aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur
yang aku dengar.” (HR. Muslim, Ahmad, dari sahabat Anas bin Malik)
Rasulullah Saw bersabda;
“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam
kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya),
maka dia akan menjawab; ‘Laa ilaahaa illallah wa anna muhammadan rasulullah’.
Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah Swt (yang artinya);
‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS.
Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari-Muslim)
Hari Kiamat dan kehidupan Akhirat
Hari kiamat adalah hari dimana kehidupan dunia ini
akan berakhir, dan bumi beserta seluruh isinya akan hancur. Mengenai kapan
waktu terjadinya kiamat hanya Allah yang tau, sebagaimana firman-Nya;
“Katakanlah, “Sesungguhnya ilmu (tentang hari
kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku (Muhammad) hanyalah
seorang pemberi peringatan yang jelas.” (QS. Al-Mulk: 26)
“Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah
kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang
beterbangan, dan gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS.
Al-Qari’ah: 1-5)
“Apabila hari kiamat tiba. Terjadinya kiamat itu tidak
dapat didustakan atau (disangkal).” (QS. Al-Waqi’ah: 1-2)
“Sebenarnya (hari Kiamat) itu akan datang kepada
mereka secara tiba-tiba, lalu mereka menjadi panik; maka mereka tidak sanggup
menolaknya dan tidak (pula) diberi penangguhan (waktu).” (QS. Al-Anbiya’:40)
“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan
saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka
tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada
keluarganya. Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan
segera dari kuburnya menemui Tuhan mereka. Mereka berkata, ‘Aduh celakalah
kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah
yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-Nya.” (QS.
Yasiin: 49-52)
Kelak di akhirat semua manusia akan dihidupkan
kembali oleh Allah Swt untuk dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah
dilakukannya di dunia. Manusia akan memperoleh balasan atas segala amalannya,
dan tak akan ada satu manusiapun yang luput dari kekuasaan Allah sebagaimana firman-Nya;
“Tiadalah teriakan itu selain satu teriakan saja,
maka dengan tiba-tiba mereka dikumpulkan kepada Kami. Pada hari itu tidak
seorang pun dirugikan dan kamu tidak mendapat balasan, kecuali apa yang telah
kamu kerjakan.” (QS. Yasiin: 53-54)
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati
dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka
tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata
(Lauhul Mahfuz).” (QS. Yasiin: 12)
Kemudian setiap manusia akan ditimbang amalannya, dan
diberi balasan yang setimpal oleh Allah Swt sebagaimana yang telah dijanjikan.
Allah Swt berfirman;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat
zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan
kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS.
Az-Zilzal: 7-8)
“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang
ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.” (QS.
Al-Qari’ah: 6-11)
Berikut kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada
orang-orang yang beriman dan berat timbangan amal kebaikannya, sebagaimana
firman-Nya;
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu
bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada
dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka
memperoleh buah-buahan dan apapun yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan)
‘Salaam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS.
Yasiin: 55-58)
“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari
yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS.
Al-Waqi’ah: 22-23)
Adapun balasan bagi orang-orang yang mendurhakai
Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir),
“Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang
berbuat jahat! Bukankah Aku telah memerintahan kepadamu, hai Bani Adam supaya
kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata
bagimu.” (QS. Yasiin: 59-60)
“Inilah (neraka) Jahannam yang dahulu telah
diperingatkan kepadamu. Masuklah ke dalamnya pada hari ini, karena dahulu kamu
mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah tangan
mereka kepada Kami dan kaki mereka memberikan kesaksian terhadap apa yang
dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasiin: 63-65)
“Dan orang-orang yang kafir terhadap Tuhannya
memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila
mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan,
sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah
lantaran marah. Setiap kali sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke
dalamnya penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum
pernah datang kepadamu (di dunia) seseorang pemberi peringatan?” (QS.
Al-Mulk: 6-8)
Bila ada kesalahan kata dan kekeliruan dalam tulisan
ini, saya mohon ampun kepada Allah dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
kepada pembaca...karena tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah
milik Allah Swt.
Semoga dalil-dalil diatas dapat menjadi pelajaran
bagi kita agar senantiasa mengingat Allah dan bersemangat mengumpulkan amal
kebaikan untuk kehidupan di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa menjaga hati
kita dan menambah keimanan dalam dada kita J
Amin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar