Kamis, 26 September 2013

Manusia

Bismillahirrahmanirrahim...
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah dan ilmu pengetahuan kedalam diri manusia, serta shalawat dan salam ke haribaan nabi besar Muhammad Saw yang telah membawa kita dari alam jahiliyah ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan J Subhanallah...

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang
Pemilik hari pembalasan
Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan
Tunjukilah kami jalan yang lurus
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.”
(Surah Al-Fatihah)


Manusia adalah makhluk istimewa yang telah diilhami nafsu dan akal oleh Allah SWT, dengan akal manusia dapat berpikir dan merenungkan ciptaan Allah, dengan akal manusia dapat mengkaji berbagai ilmu pengetahuan, dengan akal pula manusia seharusnya dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil J Insya Allah.
Berikut saia akan coba mengulas tentang kejadian manusia dari awal penciptaan, sejarah orang-orang terdahulu, hingga hari kebangkitan (kehidupan akhirat) yang telah dijanjikan oleh Allah, dengan bersandar pada A-Qur’an dah As-Sunnah sebagai pedoman hidup manusia. Semoga bermaanfaat bagi para pembaca J


Keistimewaan Manusia
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah Swt sebagaimana firman-Nya;
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)


Asal Mula Penciptaan Manusia
Allah telah memberikan pengetahun kepada kita mengenai proses penciptaan manusia melalui Al-Qur’an. Manusia merupakan makhluk yang terbuat dari tanah liat, sebagaimana firman-Nya;
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr: 26-27)

Dalam Al-Qur’an, telah dijelaskan pula bahwa Allah berkehendak untuk menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, Allah berfirman;
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi’. Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS. Al-Baqarah: 30)

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku semua (benda) ini, jika kamu benar! Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana’ Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Adam! Beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!’ setelah dia (Adam) menyebutkan nama-namanya, Dia berfirman, ‘Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembuyikan?”” (QS. Al-Baqarah: 31-33)



Iblis Memusuhi Adam beserta Keturunannya
Seringkali kita mendengar atau mungkin membaca perihal makhluk yang bernama Iblis. Iblis adalah makhluk jahat yang tidak pernah rela manusia mengabdi kepada Allah. Oleh karena itu, sepanjang hidupnya akan dihabiskan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Allah telah mengabarkan mengenai kejadian yang mengawali permusuhan antara Iblis dengan Adam serta anak cucunya. Allah berfirman;
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sungguh, aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya (kejadian)nya, dan aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali Iblis. Ia enggan ikut bersama-sama para (malaikat) yang sujud itu. Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?’ Ia (Iblis) berkata, ‘Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk’. Dia (Allah) berfirman, ‘(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.’” (QS. Al-Hijr: 28-35)

Iblis terang-terangan bermaksiat dan menyombongkan diri dihadapan Tuhannya dengan menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Akhirnya dia termasuk kedalam golongan makhluk yang kufur nikmat. Allah menghukum Iblis karena pembangkangannya. Kemudian Iblis pun meminta penangguhan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Ia (Iblis) berkata, ‘Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr: 36)

Allah berfirman, “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (Kiamat).” (QS. Al-Hijr: 37-38)

“Ia (Iblis) berkata, ‘Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambamu yang terpilih diantara mereka.’” (QS. Al-Hijr: 39-40)

“...Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus” (QS. Al-A’raf: 16)

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 17)

Kemudian Allah menjauhkan Iblis dari rahmat-Nya, memanjangkan umurnya dan membebaskannya untuk menempuh jalan yang menjadi pilihannya. Allah Swt berfirman;
“Dan perdayakanlah siapa saja diantara mereka yang engkau (iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka.” Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (Al-Isra’: 64)


Allah Menurunkan Adam ke Bumi
Pada mulanya, manusia pertama (Adam) dan hawa tinggal bersama di surga, sebagaimana firman Allah;
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!’” (QS. Al-Baqarah: 35)

Kemudian setan memperdaya Adam dan istrinya untuk melanggar perintah Allah, sehingga Allah menghukumnya karena perbuatannya yang zalim. Allah berfirman;
“Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga), dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.’” (QS. Al-Baqarah: 36)

”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. Kami berfirman, ‘turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.“ (QS. Al-Baqarah: 37-39)

Maka dimulailah kehidupan Adam dan Hawa beserta keturunannya di muka bumi. Allah berfirman;
“...Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagaimana kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahuilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka”. (QS. Thaahaa: 123)


Tujuan Penciptaan Manusia
Lalu untuk apa manusia diciptakan ke dunia?? Pernahkan pertanyaan ini menghampiri benak anda?? Jawabannya ada dalam Al-Qur’an;
“Dia (Allah) berfirman, ‘Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar saja, jika kamu benar-benar mengetahui’. Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun: 114-115)

Manusia diciptakan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

Mengemban amanah dari Allah, berdasarkan firman Allah Swt;
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
QS. Al-Ahzab: 72)

Manusia hidup di dunia untuk beribadah dan mengumpulkan amalan kebaikan, dan kelak segala perbuatannya akan dimintai pertanggung jawaban dan mendapatkan balasan yang setimpal, sebagaimana firmna Allah;
“Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi, Allah berfirman;
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah (pemimpin) di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)

“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 165)

Manusia dituntut untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, Allah berfirman;
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Jelas sudah bahwa manusia adalah makhluk yang mengemban amanah Allah sebagai khalifah di muka bumi, berkewajiban untuk taat dan patuh pada perintah Allah dan senantiasa beribadah kepada-Nya. Manusia berkewajiban pula untuk saling nasehat-menasehati, sebagaimana firman Allah;
“Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1-3)


Rasul Diutus ke Bumi
Sejak dahulu, Allah telah mengutus Rasul untuk menyampaikan risalah-Nya ke bumi dan memberi peringatan kepada manusia untuk menyembah Allah dan senantiasa beribadah hanya kepada-Nya. Begitu besarnya kasih sayang Allah kepada manusia, agar memperoleh keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.. Namun sejak dahulu, kaum nabi-nabi tetap saja ada yang ingkar terhadap perintah Allah dan memilih berada dalam kesesatan hingga Allah Swt mengazabnya.
Allah Swt berfirman;
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut’, kemudian diantara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl: 36)
“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. Dan kami tidak menjadikan mereka (rasul-rasul) suatu tubuh yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal. Kemudian kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas. Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?” (QS. Al-Anbiya’: 7-10)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

Dalam Al-Qur’an surah Al-Anbiya’ yang berarti nabi-nabi, Allah telah banyak mengkisahkan mengenai nabi-nabi dengan kaumnya. Sungguh Allah Maha Mengetahui segala apa yang di langit dan di bumi, dan Allah Maha Mengetahui apa yang dilahirkan oleh manusia (ucapan) maupun yang disembunyikan oleh manusia di dalam hatinya (rahasia). Allah berfirman;
“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Furqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Anbiya’: 48)

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. Mereka berkata, ‘Apakah engkau datang kepada kami membawa kebenaran atau engkau main-main? Dia (Ibrahim) menjawab,’Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan (pemilik) langit dan bumi; (Dialah) yang telah menciptakannya dan aku termasuk orang yang dapat bersaksi atas itu.” (QS. Al-Anbiya’: 54-56)

“Dan kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Lut ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam. Dan Kami menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yakub sebagai suatu anugerah. Dan masing-masing Kami jadikan orang yang shaleh. Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS. Al-Anbiya’: 71-73)

“Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu, ketika dia berdo’a. Kami perkenankan (do’a)nya, lalu Kami selamatkan dia bersama pengikutnya dari bencana yang besar.” (QS. Al-Anbiya’: 76)

“Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, ketika keduanya memberikan keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Maka Kami berikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. Al-Anbiya’: 78-79)

Menurut riwayat Ibnu Abbas, ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Dawud a.s. Ia memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman a.s memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanaman yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Keputusan Nabi Sulaiman a.s yang lebih tepat. Begitulah Allah memberikan petunjuk-Nya kepada Nabi Sulaiman J Allahu Akbar...

Dan Kami ajarkan pula kepada Dawud cara membuat baju besi untukmu, guna melindungi kamu dalam peperanganmu. Apakah kamu bersyukur (kepada Allah)?”  (QS. Al-Anbiya’: 80)

“Dan (Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Dan Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan (Kami tundukkan pula kepada Sulaiman) segolongan setan-setan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mereka mengerjakan pekerjaan selain itu, dan Kami yang memelihara mereka itu.”  (QS. Al-Anbiya’: 81-82)

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (do’a)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi pengingat bagi semua yang menyembah Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar, dan kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh mereka termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al-Anbiya’: 85-86)

“Dan (ingatlah kisah) Zun nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdo’a dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim’ Maka Kami kabulkan (do’a)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.”   (QS. Al-Anbiya’: 87-88)

“Dan (ingatlah kisah) zakaria, ketika dia berdo’a kepada Tuhan-nya, ‘Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik. Maka Kami kabulkan (do’a)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka berdo’a kepada kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 89-90)

“Dan (ingatlah kisah Maryam) yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan (roh) dari Kami ke dalam (tubuh)nya; Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (kebesaran Allah)bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 91)

Sungguh, (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. Tetapi mereka terpecah belah dalam urusan (agama) mereka diantara mereka. Masing-masing (golongan itu semua) akan kembali kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 92-93)

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr, bahwa bumi ini akan dihiasi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya’: 105)


Al-Qur’an Sebagai Petunjuk, Peringatan dan Kabar Gembira
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad Saw melalui malaikat Jibril, untuk disampaikan kepada umat manusia sebagai pedoman hidup agar memperoleh keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Allah Swt berfirman;
“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia). (QS. Al-Furqan: 1)

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Ha Mim. (Al-Qur’an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan. Dan mereka berkata, ‘Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepada-Nya dan telinga kami sudah tersumbat, dan diantara kami dan engkau ada dinding, karea itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).’” (QS. Fushshilat: 1-5)

Al-Qur’an sebagai petunjuk, membimbing manusia ke jalan yang lurus.
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya dengan tanpa kebengkokan di dalamnya, sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan manusia akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shaleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (QS. Al-Kahfi: 1-2)

Allah telah menjamin kemurnian Al-Qur’an, berdasarkan firman-Nya;
“Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui. Sesungguhnya Al-Qur’an adalah bacaan yang sangat mulia. Pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mafuzh).” (QS. Al-Waqi’ah: 75-78)

“Maha Suci Allah yang ditangan kekuasaan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Al-Qur’an sebagai peringatan, sebagaimana firman Allah Swt;
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas, agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.” (QS. Yasiin: 69-70)

Sungguh, janji Allah mengenai ganjaran segala amal perbuatan kita di dunia itu pasti. Barangsiapa menabur benih kebaikan dan senantiasa mengerjakan amalan shaleh, maka ia akan memperoleh surga. Barangsiapa yang mengingkari janji Allah dan kufur nikmat, maka neraka Jahanam adalah balasan baginya. Allah berfirman;
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kalian, dan janganlah sekali-kali setan yang pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah.” (QS. Fathir: 5)

“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti akan datang, dan kamu sekali-kali tidak akan sanggup menolaknya.” (QS. Al-An’am: 134)

“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati, sungguh Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’: 104)

Pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an, Allah menantang orang-orang yang meragukan dan mendustakan Al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya;
“Apakah kamu meremehkan Al-Qur’an? Kamu (mengganti) rezeki (yang Allah berikan) dengan mendustakan (Allah). Lalu mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal saat itu kamu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu tetapi kamu tidak melihat. Maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya), jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (QS. Al-Waqi’ah: 81-87)

“Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24)

“Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur’an) ini benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah). Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 106-107)


Kehidupan Dunia
Terlahir di dunia dari rahim seorang ibu, tumbuh menjadi besar, mengenyam pendidikan dan memperoleh gelar, lalu bekerja dan berkarya, menikah, mempunyai anak dan hidup bahagia hingga tua dan ajal menjemput... lalu pada akhirnya tiap-tiap manusia akan menjadi sejarah bagi generasi berikutnya. Secara garis besar, begitulah perjalanan hidup manusia di dunia ini. Apa yang sesungguhnya kita cari di dunia?? Tanyakan diri kita masing-masing J
Allah berfirman;
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak seperti hujan dan tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan akhirat nanti ada azab yang keras, dan ampunan Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

“Tidak lain kehidupan dunia ini kecuali sendagurau-sendagurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)

“Bermegah-megahan telah membikin kamu lalai. Sampai kamu masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.” (QS. Al-Takatsur: 1-4)


Kematian dan Alam Kubur
Kehidupan di dunia sering membuat kita lalai dalam mengingat Allah, Tuhan yang telah menciptakan dan memberi kita rizki. Allah berfirman;
“Katakanlah, ‘Siapakah yang akan akan menjaga kamu pada waktu malam dan siang dari (siksaan) Allah Yang Maha Pengasih?’ Tetapi mereka enggan mengingat Tuhan mereka.” (QS. Al-Anbiya’: 42)

Mungkin selama ini kita telah sering berbuat maksiat kepada Allah, berlomba-lomba mengejar kehidupan duniawi seakan-akan kita akan kekal didalamnya dan tak akan pernah mati. Padahal tidak ada yang abadi di dunia ini, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, sebagaimana firman Allah;
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 35)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan di dalam surga, maka sungguh ia akan beruntung. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

“Katakanlah: Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Yaitu ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk disebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap hari, bersama dengan seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari hal ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatan pada hari itu amat tajam.” (QS. Qaf: 16-22)

“Kami telah menentukan kematian di antaramu dan sekali-kali Kami tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikanmu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Waqi’ah: 60-61)

“...(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu’. Pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kamu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya .” (QS. Al-An’am: 93)

Saat nyawa telah meninggalkan jasad... maka semua tak ada artinya lagi, tubuh yang dahulunya berdiri tegap sudah tak berdaya. Mayat akan diusung kedalam peti dan diantarkan oleh sanak saudara ke pemakaman, lalu dikuburkan. Saat itu, siapa yang dapat menolong kita dari kesunyian dan kegelapan liang lahat?? Siapa yang akan mencegah binatang-binatang tanah yang hendak menggerogoti tubuh kita??

Allah berfirman;
“Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan dibelakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafa’at (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah).” (QS. Al-An’am: 94)

Tanyakan diri... kemana harta yang selalu kita kumpulkan hingga tak kenal lelah dan waktu?? dimana kecantikan atau ketampanan yang dahulu kita banggakan?? Apalah artinya kedudukan dan jabatan di dunia?? Apa artinya gelar pendidikan yang dulu kita kejar mati-matian?? Bukankah pada akhirnya nama kita hanya akan menyandang gelar almarhum atau almarhumah...
Lalu untuk apa semua itu, jika hanya akan membuat kita mengabaikan perintah-perintah Allah dan menjadikan diri kita sebagai manusia yang kufur nikmat...na’udzubillahi min dzalik. Mari jadikan renungan untuk kita bersama J

Sungguh kematian akan memutuskan hubungan manusia dengan alam dunia. Setelah mati, semua yang ada di dunia tidak dapat menolong dan memberi manfaat sedikitpun, kecuali 3 hal, sebagaimana sabda Rasulullah Saw;
“Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu; anak shaleh yang mendoakannya, sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.” (HR. Muslim)

Setelah manusia menemui kematian, maka ia pun mulai memasuki  tahapan awal  dari perjalanan menuju akhirat yaitu alam kubur. Alam kubur (alam barzah) merupakan alam ghaib yang tidak terindera oleh manusia. Manusia yang merasakannya pun tidak dapat mengabarkannya lagi kepada yang masih hidup akan kebenarannya. Nikmat dan azab kubur adalah perkara ghaib yang hanya dapat diketahui melalui dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Mengenai azab kubur, Rasulullah Saw bersabda;
“Seandainya kalian tidak akan saling menguburkan, tentulah aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian siksa kubur yang aku dengar.” (HR. Muslim, Ahmad, dari sahabat Anas bin Malik)

Rasulullah Saw bersabda;
“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya, ia kemudian didatangi (oleh dua malaikat lalu bertanya kepadanya), maka dia akan menjawab; ‘Laa ilaahaa illallah wa anna muhammadan rasulullah’. Itulah yang dimaksud al-qauluts tsabit dalam firman Allah Swt (yang artinya); ‘Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan al-qauluts tsabit’ (QS. Ibrahim: 27)” (HR. Bukhari-Muslim)


Hari Kiamat dan kehidupan Akhirat
Hari kiamat adalah hari dimana kehidupan dunia ini akan berakhir, dan bumi beserta seluruh isinya akan hancur. Mengenai kapan waktu terjadinya kiamat hanya Allah yang tau, sebagaimana firman-Nya;
“Katakanlah, “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku (Muhammad) hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.” (QS. Al-Mulk: 26)

“Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan, dan gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 1-5)

“Apabila hari kiamat tiba. Terjadinya kiamat itu tidak dapat didustakan atau (disangkal).” (QS. Al-Waqi’ah: 1-2)

“Sebenarnya (hari Kiamat) itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, lalu mereka menjadi panik; maka mereka tidak sanggup menolaknya dan tidak (pula) diberi penangguhan (waktu).” (QS. Al-Anbiya’:40)

“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya. Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya menemui Tuhan mereka. Mereka berkata, ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-Nya.” (QS. Yasiin: 49-52)

Kelak di akhirat semua manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah Swt untuk dimintai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukannya di dunia. Manusia akan memperoleh balasan atas segala amalannya, dan tak akan ada satu manusiapun yang luput dari kekuasaan Allah  sebagaimana firman-Nya;
“Tiadalah teriakan itu selain satu teriakan saja, maka dengan tiba-tiba mereka dikumpulkan kepada Kami. Pada hari itu tidak seorang pun dirugikan dan kamu tidak mendapat balasan, kecuali apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Yasiin: 53-54)

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauhul Mahfuz).” (QS. Yasiin: 12)

Kemudian setiap manusia akan ditimbang amalannya, dan diberi balasan yang setimpal oleh Allah Swt sebagaimana yang telah dijanjikan. Allah Swt berfirman;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (QS. Az-Zilzal: 7-8)

“Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah: 6-11)

Berikut kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan berat timbangan amal kebaikannya, sebagaimana firman-Nya;
“Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan apapun yang mereka minta. (Kepada mereka dikatakan) ‘Salaam’, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (QS. Yasiin: 55-58)

“Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al-Waqi’ah: 22-23)

Adapun balasan bagi orang-orang yang mendurhakai Allah, sebagaimana firman-Nya;
“Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat! Bukankah Aku telah memerintahan kepadamu, hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Yasiin: 59-60)

“Inilah (neraka) Jahannam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu. Masuklah ke dalamnya pada hari ini, karena dahulu kamu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah tangan mereka kepada Kami dan kaki mereka memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasiin: 63-65)

“Dan orang-orang yang kafir terhadap Tuhannya memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali sekumpulan (orang-orang kafir) dilemparkan ke dalamnya penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia) seseorang pemberi peringatan?” (QS. Al-Mulk: 6-8)

Bila ada kesalahan kata dan kekeliruan dalam tulisan ini, saya mohon ampun kepada Allah dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada pembaca...karena tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt.
Semoga dalil-dalil diatas dapat menjadi pelajaran bagi kita agar senantiasa mengingat Allah dan bersemangat mengumpulkan amal kebaikan untuk kehidupan di akhirat kelak. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita dan menambah keimanan dalam dada kita J Amin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar