Selasa, 10 Desember 2013

Keutamaan Diam

Ketahuilah bahwa lisan itu amat besar bahayanya. Tidak ada orang yang bisa selamat darinya, kecuali dengan diam. Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa diam, niscaya akan selamat.” (HR. Tirmidzi). Manusia yang waspada tentu akan menyadari bahwa di dalam banyak bicara terdapat bahaya. Bukankah banyak bicara banyak salah, banyak salah banyak dosa, dan dosa tempatnya adalah neraka.
Sedangkan di dalam diam terdapat keselamatan. Maka dari itu keutamaan diam amat besar. Di dalam diam, terdapat kebijaksanaan, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w, “Diam adalah kebijaksanaan, dan sedikit orang yang mampu melakukannya.” (HR. Abu Manshur ad-Dailami)

Diriwayatkan dari Said ibn jubair, bahwa Rasulullah berkata, “Apabila anak cucu Adam bangun di waktu pagi, maka semua anggota tubuhnya berpesan kepada lisannya dengan berkata, ‘Takutlah kepada Allah demi kami! Karena, jika engkau lurus (baik), niscaya kami juga lurus (baik, jika engkau bengkok (jahat), niscaya kami juga bengkok.’” (HR. Tirmidzi)

Ucapan itu ada empat macam:
  • Ucapan yang berbahaya
  • Ucapan yang bermanfaat
  • Ucapan yang di dalamnya ada manfaat
  • Ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak berbahaya
Adapun ucapan yang membahayakan maka wajib berdiam diri darinya. Demikian pula terhadap ucapan yang di dalamnya ada bahaya dan manfaat, karena manfaat di dalamnya tidak akan sempurna sebab bahaya yang ditimbulkannya.
Sedangkan ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak berbahaya, maka ucapan itu tidak berguna. Sebab sama halnya dengan menyia-nyiakan waktu dan menceburkan diri ke dalam kerugian yang besar. Ucapan yang pasti bermanfaat pun harus diwaspadai karena di dalam ucapan yang bermanfaat bisa terselip riya’ (hasrat pamer) yang sering tidak disadari.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa manusia itu pada hakikatnya, selalu berada dalam bahaya. Salah sedikit dalam berucap, maka kemudharatan yang ditimbulkannya besar sekali. Ketika Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang paling bisa menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka, maka beliau mengatakan, “Dua lubang, yaitu mulut dan kemaluan!” (HR. Tirmmidzi)
Oleh karena itu, jika tidak dapat berkata yang baik-baik maka diam adalah pilihan yang utama J. Rasulullah s.a.w bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata benar atau bersikap diam!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar