Rabu, 25 Desember 2013

Memory of Tsunami

Sembilan tahun silam... tepatnya 26 Desember 2004... terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, tepatnya di pantai barat Aceh. Gempa berkekuatan 9,3 SR ini mengakibatkan tsunami, menghantam Aceh, Nias, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilanka, bahkan sampai ke Pantai Timur Afrika dan menelan korban jiwa di 8 negara. Mengenai jumlah korban, hanya Allah yang tau pasti... ada yang menyebutkan angka 230.000 jiwa, ada yang mengatakan 250.000 jiwa... (hmm...entahlah) yang pasti selain mayat-mayat yang ditemukan... masih banyak pula orang-orang yang hilang dan sampai hari ini tak pernah kembali.


__________________________________________________________________________________________

Dua puluh enam desember dua ribu empat... saat itu aku berusia tujuh belas tahun. Yaa.. seingatku, aku genap tujuh belas tahun baru 12 hari yang lalu. Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Rumahku ramai, selain abu, mamak dan kami (empat bersaudara) ini... ada lagi saudara sepupuku dan mak bit 2 orang (sebutan untuk tante dalam bahasa Aceh). Tapi... sehari sebelum kejadian tsunami terjadi, mak bit berpamitan untuk menginap di rumah pak wa (abang ibu dalam bahasa Aceh) karena bertepatan dengan libur akhir pekan.

Hari itu aku bangun pagi-pagi sekali untuk shalat shubuh, setelah itu membangunkan adik perempuanku yang bernama Maysura untuk mengerjakan shalat. Sebenarnya aku tak tega membangunkannya, karena ia masih kecil dan semalaman badannya begitu panas. Namun... dia tak mengeluh sedikitpun. Aku pun bersiap-siap mengambil kain yang sudah dicuci oleh mak bit kemarin sore untuk di jemur di belakang rumah... lalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi, karena mamak sakit sejak beberapa hari yang lalu. Tak lama setelah menghidangkan makanan ke atas meja. Abu, mamak dan adik-adikku lalu berkumpul di ruang tengah untuk sarapan, sedangkan bang Oji (sepupuku) sedang mencuci sepatu sekolahnya di belakang.

Setelah selesai sarapan... aku masuk ke kamar, berniat untuk mendengarkan radio. Sampai di kamar ku tekan tombol on pada radio dan mencoba memutar siaran, tiba-tiba seperti ada gempa. Tak sempat berpikir panjang lagi, abu sudah berteriak dan menyuruh kami semua untuk keluar dari rumah. Tak lama kami semua sudah berkumpul di gang depan rumah, bukan hanya kami... tetanggaku juga keluar berhamburan.

Jam menunjukkan waktu terjadinya gelombang tsunami 2004

Goncangan gempa pagi itu sangat kuat, merubuhkan toko berlantai tiga yang berjarak 200 meter dari rumahku, terlihat asap mengepul dari tempat kami berada. Seingatku, abu sempat bilang... kemungkinan air laut akan naik ke darat. Namun aku sama sekali tidak paham... saat guru geografi menjelaskan mengenai tsunami di kelas, aku tidak menyimaknya :(

Sesaat kemudian... dari kejauhan terlihat orang-orang sedang berlarian dan berteriak, “Ie laot i ek” (air laut naik). Semuanya panik... tetanggaku ikut berlarian. Aku berbalik arah, hendak memanggil mamak yang tadinya masuk ke rumah karena ingin menelpon pak wa untuk menanyakan kabar. Dari salah satu ujung gang rumah, ku saksikan pemandangan yang begitu mengejutkan, air sungai meluap seperti air mendidih. Cepat Abu mengeluarkan mobil dari carport dan menyuruh kami semua untuk naik... adapun beberapa tetanggaku yang mengikuti kami.

Maysura menangis... aku makin kalut dibuatnya L Abu menyetir mobil dengan sigap, terus melaju keluar dari gang kecil ke gang yang lebih besar dan akhirnya ke jalan raya. Jalanan sudah kacau... kendaraan tak lagi bergerak sesuai arah jalur lintasannya... semua berbalik arah menjauhi sungai... aku menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan... seperti di film-film pikirku. Tekanan air laut menuju darat, mendorong air sungai dari muara... membuat air sungai meluap... airnya begitu kencang... kencang sekali. Hingga membuat lampu-lampu di median jalan yang baru saja kami lalui jatuh satu persatu dihantam olehnya.

Abu terus mengendarai mobil berlomba-lomba dengan air sungai yang meluap dengan begitu cepat. Ia begitu cekatan menyelip-nyelip diantara kendaraan lain yang sedang melaju. Kupikir kami akan selamat dari hantaman air... ternyata dugaanku salah... di depan sana, kendaraan mulai macet dipadati oleh mobil pengantar jama’ah haji. Klakson mobil pun mulai bersahut-sahutan. Aku mulai panik... air dari arah sungai tadi telah sampai... L dan mobilpun mulai terapung seperti perahu.  Aku tak mengerti apa yang kurasakan saat itu, heran, kaget, ketakutan, semuanya bercampur jadi satu, tak tau harus berbuat apa, dan hanya bisa beristighfar. Duduk tercengang melihat keadaan disekelilingku. Tetangga sekaligus sahabatku dari kecil, yang ikut bersama kami di dalam mobil sejak dari depan rumah tadi tak berhenti menangis dan memeluk ayahnya... Tiba-tiba saja air berwarna hitam laksana ombak raksasa kurang lebih setinggi enam meter datang dengan cepat dari arah bibir pantai... menghantam rumah-rumah yang ia lewati hingga hancur... aku hanya bisa terdiam kaku...hingga ombaknya menghantam mobil kami (kejadiannya begitu cepat..hanya dalam hitungan detik).

Gleeeek....gleeeek... gleeeek.... Kini, aku telah berada di dalam air, tak bisa berenang, tak bisa melihat apapun. Hanya berusaha untuk mengayuhkan tangan, meraih apa yang bisa kudapatkan seperti kabel telpon yang bergelantungan... agar kepalaku tak terbenam dalam air, sehingga aku bisa bernafas. Tapi itu hanya sebentar... arus deras kembali membawaku pergi dan memasuki gang. Aku kembali tenggelam... namun tak lama kemudian tiba-tiba saja aku terapung, ku hirup udara segar... dan bertemu mamak dan Bahrul (adikku). Mamak memegang tanganku dan tangan Bahrul dengan erat, agar kami tak terpisah lagi... namun rambut panjangku tersangkut...hingga rasanya kulit kepala ini mau lepas.

Namun itu hanya sebentar... begitu cepat, dan arus deras kembali membawaku pergi terpisah dari keluargaku. Aaah aku tenggelam lagi... pedih, aku tak bisa bernafas, dalam hati hanya bisa membaca surah-surah yang kuhafal. Saat itu, yang terpikir di benakku...mungkinkah saatnya telah tiba, malaikat maut akan menjemputku. Aku mulai pasrah, kepalaku seakan memutar video rekaman kejadian yang terjadi di hari itu dari bangun tidur hingga tersapu gelombang. Akhirnya aku pun mengucapkan dua kalimat syahadat dan merentangkan kedua tangan. Lalu aku tak ingat apapun lagi...

“Banguuuuun...!!! bangun dek!!” ku dengar teriakan itu begitu nyata, akupun membuka mata dan tak sedikitpun berusaha mencari tahu siapa dan darimana asal suara itu. Ku sadari bahwa diriku telah tertidur di atas jalan yang tidak berair sedikitpun... kaki kiriku tersangkut pada tong kayu yang tergeletak di persimpangan sebuah gang. Aku tak mengerti, tapi... tak sempat berpikir panjang lagi, karena tak lama kemudian aku kembali melihat gelombang air yang sedang melaju ke arahku. Siapa yang ingin terbenam untuk kedua kalinya?!! Reflek aku langsung mengambil langkah seribu memasuki gang kecil itu.

Di sana... orang-orang masih berdiri di depan rumahnya, tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Hingga ku ingatkan mereka untuk segera menyelamatkan diri.. karena gelombang air laut sudah semakin mendekat. Semua berhamburan... dan akupun diajak untuk masuk ke dalam salah satu rumah berlantai dua untuk menyelamatkan diri. Berdiri di balkon atas... kulihat gelombang datang dan menyapu semua yang dilewatinya.

lukisan - koleksi Museum Tsunami Aceh

Takbir berkumandang bersahut-sahutan... Allahu Akbar... Allahu Akbar.... Alhamdulillah aku selamat, ternyata Allah masih menghendaki aku untuk terus hidup. Namun orang tuaku dan adik-adikku entah bagaimana nasibnya saat itu... aku tak tahu L

Pukul 10.00 WIB air laut mulai surut. Pemuda gampong Peurada sibuk mengevakuasi mayat-mayat korban tsunami... katanya semua dibawa ke Mesjid. Lalu akupun memberanikan diri untuk ke mesjid... keluargaku pasti sudah berkumpul disana, ini bukan desaku... kalau bukan ke mesjid lalu mau kemana lagi?!! (begitu pikirku). Turun dari balkon... saat itu, di jalan-jalan air masih sebatas pinggang... tapi tak menghentikan langkahku yang terus ingin bergerak ke arah mesjid gampong Peurada.

Benar saja... saat berada di pintu lantai dua mesjid, disana sudah ada Bahrul dan mamak. Mamak memeluk erat sambil terisak dan mengatakan bahwa Maysura dan Zaki telah meninggal... lalu menunjukkan jenazah mereka yang telah ditutupi dengan spanduk. Bahrul menangis... tangannya sakit dan badannya mulai hangat saat itu. Mamak dapat kabar... bahwa abu juga sudah meninggal dan jenazahnya tergeletak di median jalan tak jauh dari mobil.. tapi mamak belum melihat jenazahnya. Jadi, aku dan bang Oji pergi kesana untuk memastikan benar atau tidaknya kabar itu.

Sesampainya di jalan kira-kira 100 meter dari mobil... aku melihat jenazah bersarung warna hijau (itu benar sarung abu...pikirku). Jenazah itu telah ditutupi dengan kain sarung lainnya entah milik siapa... hati mulai menangis. Saat membuka kain penutup... sungguh itu abu L air mata tak tertahankan lagi... mengalir begitu saja. Tadi pagi, kami masih berkumpul di ruang makan bersama-sama.... seakan tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Semua adalah milik Allah dan jika Allah berkehendak semua akan diambil... tidak ada yang mustahil bagi-Nya dan tak ada seorangpun yang mampu mencegah.

Sore itu, ba’da ashar pak wa datang menjemput kami. Alhamdulillah daerah rumah pak wa tidak terkena tsunami. Malam itu, proses penyelenggaraan jenazah abu dan adik-adikku langsung dilaksanakan... mengingat begitu banyaknya korban tsunami. Kalau masih menunggu esok hari.. maka penyelenggaraannya akan dilakukan secara masal.


Sekarang aku sadar, begitu besar nikmat yang telah diberikan oleh Allah untukku, nikmat bernafas, karena aku tak tahu harus bagaimana jika kejadian sulit bernafas seperti tempo hari terjadi lagi. Nikmat hidup bagiku... Rahmatmu yaa Allah. Alhamdulillah karena Engkau telah mempermudah proses penyelenggaraan jenazah abu, maysura dan zaki. Kini aku harus terus mempergunakan kesempatan hidup yang diberikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya. Kesempatan hidup di dunia, yang tak seorangpun tau bagaimana ujungnya, tak ada yang tau kapan akhirnya, selain sang Khalik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar